L ain ladang lain belalang. Mungkin itulah ungkapan yang paling pas terhadap keanekaragaman kuliner di Indonesia. Setiap daerah memiliki keunikan dan kekhasannya sendiri-sendiri. Lamongan dengan soto lamongannya, Jogjakarta dengan gudegnya, Sumatera Selatan dengan pempeknya, Banjarmasin dengan soto banjarnya dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sumenep sebagai sebuah kota paling timur di pulau Madura juga memiliki kuliner dengan keunikan dan kekhasannya. Kuliner ini begitu favorit di masyarakat, diantaranya:
1. Campor
"Campor" identik dengan Kebunagung yaitu nama sebuah desa yang masuk wilayah Kecamatan Kota Sumenep. Dari arah pusat kota "stopan" atau perempatan kota kearah barat kurang lebih 3 km, anda akan sampai di Desa Kebunagung.
Di Desa Kebunagung inilah dari dulu banyak dijumpai penjual campor. Saat penulis masuk Sumenep tahun 1980an, campur ini begitu favorit sebagai menu sarapan pagi. Kisaran mulai pukul 06.00 WIB biasanya penjual sudah mulai berjualan. Pada kisaran pukul 10.00 -11.00 WIB mereka sudah tutup karena persediaan sudah habis.
Disebut "campor" karena disajikan dengan cara dicampur yakni ketela pohon (sabreng), lontong, ote-ote atau korket ( sabreng yang ditumbuk halus, diberi bumbu kemudian digoreng), soun, bumbu rujak, daun bawang yang diiris kecil-kecil , tauge goreng dan daging sapi muda. Campuran ini kemudian ditambah kuah dengan santan cair yang sudah diolah dengan racikan bumbu. Untuk resep pembuatan campur, ikuti pembahasan tersendiri nanti.
Bagi pecinta kuliner, kurang lengkap rasanya bila belum merasakan nikmatnya "campor" khas Sumenep. Kuliner ini begitu favorit disemua kalangan di Sumenep, baik dari masyarakat biasa sampai pejabatpun rela antri untuk menikmatinya.
Begitu favoritnya kuliner campor ini, ketika seseorang mengajak keluarga atau teman-temannya " Yuk kita cari campur ke Kebunagung ", padahal yang dibeli kadang adalah soto atau tajin. Penjual campur memang sekaligus juga menjual soto sebagai duet yang tak terpisahkan.
Saat ini penjual campor tidak lagi menjadi monopoli warga desa Kebunagung, tetapi di desa-desa lain sudah ada yang menjual campor.
Untuk menikmati campor, para pecinta kuliner hanya cukup mengeluarkan uang sebesar 7 ribu sampai dengan 10 ribu sudah dapat satu porsi.
Sebagai referensi dari KulSum, Anda bisa kunjungi:
1. Warung Campur bu Yani Bakri Kebunagung ( depan SDN Kebunagung II )
2. Warung Campur bu Tus ( dekat dengan Balai Desa Kebunagung, sebelah barat lapangan Futsal )
3. Warung Campur bu Aan ( Selatan Masjid Sokambang Kebunagung )
4. Warung Campur bu Nini ( Jl. Nangka Karangduak )
2. Kaldu Kokot
Kuliner yang satu ini sudah menjadi Ikon Kuliner Sumenep.
Nama Kaldu Kokot diambil dari bahan dasarnya, yakni kokot yang berarti kikil. Bagian kikil memang merupakan makanan populer di Madura, khususnya Sumenep.
Awalnya, sebelum kaldu kokot populer adalah kaldu biasa. Kaldu biasa ini bahan dasarnya adalah kacang ijo yang diolah dengan campuran beberapa rempah-rempah atau bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, pala dan lainnya sehingga mempunyai cita rasa yang khas yang disebut dengan kaldu.
Campuran lainnya adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil sebesar dadu dan tulang muda sapi yang diiris kecil-kecil, sehingga kalau dikunyah terasa kres-kres menambah nikmatnya rasa kaldu.
Untuk menambah rasa semakin kuat, ditambahkan lagi bawang merah yang sudah digoreng, daun bawang yang dipotong kecil-kecil, tauge dan kecap ketika akan disajikan. Sebagai pelengkap rasa ditambahkan korket atau lontong. Ada yang disajikan secara terpisah lontong atau korket sebagai menu tambahan.
Harganya perporsi relatif murah, yaitu dikisaran 8 ribu sampai dengan 10 ribu rupiah.
Dalam perkembangannya dikemudian hari, kaldu biasa meningkat menjadi kaldu kokot. Bahan dasarnya tetap kaldu biasa, hanya ditambahkan kokot sebagai ikannya sehingga rasa kaldu semakin maknyus...heee.
Harganyapun menjadi semakin meningkat, antara 40 s/d 50 ribu per porsi.
Kalsot ( Kaldu Soto )
Kalsot adalah perkembangan terbaru dari kaldu dan soto. Kalsot merupakan inovasi kuliner baru dari kakaknya kaldu dan soto, yang mempunyai cita rasa agak berbeda, sehingga menambah khasanah perbendaharaan macam-macam kuliner di Sumenep.
Perbedaannya dengan kaldu terletak pada cara penyajiannya saja. Kalsot disajikan dengan mencampur kaldu dan bahan soto seperti kuah soto plus bumbu rujak, tauge, daun bawang, kecap dan lainnya. Lontong atau korket menjadi bagian menu yang tak terpisahkan dengan kaldu dan soto. Penambahan kokot pada kalsot merupakan alternatif pilihan sebagaimana kaldu biasa yang ditambahkan kokot mejadi kaldu kokot.
Harganyapun per porsi relatif sama dengan harga kaldu biasa atau harga kaldu kokot.
Sebagai referensi dari KulSum anda bisa kunjungi:
1. Warung bu Adnan, Jalan Dr. Wahidin Pajagalan.
2. Warung bu Atik, Jalan Dr. Wahidin Pajagalan
3. Warung Kaldu Kokot Mariyani, Jalan Raya Sumenep-Gapura Desa Parsanga.
4. Warung Kalsot Kalianget, Lapangan Pasar Pabrik Kalianget.
Demikian info sementara Menu Utama Primadona KulSum (Kuliner Sumenep), semoga informasi ini bermanfaat dan pastikan anda mencicipinya agar tidak penasaran....utamanya bagi para pendatang atau wisman...heee.
Bikin gue penasaran aje
BalasHapusLangsung berangkat mbah Cokro...
BalasHapusBiar badan jadi hangat di pagi hari... heee
Enaknya kalau ada yg traktir
BalasHapusSiap bosss ...ditunggu di sekolah
BalasHapus